Saturday, November 18, 2017

Masih Pantaskah Kita Berbangga (Muhasabah 1)

Besar kepala atau yang akrab kita sebut sombong ini adalah salah satu sifat tidak baik. Dan sifat ini pula bisa membawa hal yang tidak baik bagi kita. Entah sadar atau tidak tapi memang demikian adanya. Salah satu yang menjadi penyebab mengapa manusia bersikap sombong adalah karena merasa dirinya lebih baik, lebih cantik atau tampan, lebih hebat, lebih mulia, lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih terhormat dari orang lain.

Dalam Al-Qur’an Allah swt telah menggambarkan dampak yang ditimbulkan dari kesombongan iblis ketika ia diperintahkan untuk “bersujud’ kepada Adam sebagai tanda hormat.” Namun, Iblis menjawab “Ana khoiru minhu (aku lebih baik dari dia (Adam)).” Maka dengan kesombongan iblis ini, akhirnya Allah mengutuk iblis menjadi makhluk yang hina dan ditetapkanlah menjadi ahli neraka dengan segenap keturunannya. Na’udzubillaahi min dzaalik!

Sekarang pertanyaannya ketika kita hendak bersikap sombong adalah apa yang bisa kita banggakan dari diri kita ini? Apakah kecantikan dan ketampanan yang membuat kita bangga? Apakah tubuh yang kuat, kekar dan indah yang membuat kita meremehkan orang lain? Apakah karena harta yang kita dapatkan yang membuat kita tinggi hati? Apakah karena memiliki suara yang merdu kemudian kita sombong? Apakah karena kecerdasan kemudian kita sombong? Ya. Mungkin saja semua pertanyaan itu yang membuat kita bisa membanggakan diri kemudian tidak mengiraukan bahkan meremehkan orang lain. Bukankah Allah telah mengingtakan dalam Firman-Nya yang artinya:

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (Q.S Al-Isrha’ : 37).”

Kemudian diperjelas lagi dalam Hadist:

“Tidak akan masuk syurga, orang yang di dalam hatinya ada sedikit rasa takabur. Seseorang berkata: Sesungguhnya seorang laki-laki akan senang jika pakaiannya indah dan sandalnya bagus. Nabi saw bersabda: Sesungguhnya Allah itu Mahaindah dan menyukai keindahan. Takabur adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”(H.R.Muslim).”

Di Dunia ini, tidak ada yang senang hidup berdampingan bahkan bergaul dengan orang yang bersifat sombong. Bahkan seseorang yang sombong seklipun enggan untuk bergaul dengar orang sombong pula. Hal ini membuktikan bahwa orang sombong itu jauh dari orang lain. Kemudian, bagaimana nasip manusia yang pada dasarnya memiliki sifat sosialis atau tidak bisa hidup sendiri, sedangkan perbuatan mereka sendiri yang membuat banyak orang menjauh darinya. Tidak bisa bergaul dengan banyak orang berarti dengan kata lain mausia sombong itu tidak diharapkan kehadirannya. Dalam masyrakat luas juga tidak akan jauh berbeda, yakni manusia yang sombong tidak akan pernah diharapkan hadir dalam golongan masyrakat. Jangankan masyrakat diluar rumah, orang terdekat bakan serumah dengan orang sombong saja merasa tidak suka. Maka dapat kita simpulkan bahwa sifat sombong itu akan mengakibatkan kehidupan kita penuh dengan resah, gelisah dan keluhan. Itulah sebabnya kenapa Allah Swt melarang manusia untuk bersifat sombong.

Jika kecantikan atau ketampanan yang membuat kita besar kepala, bagaimana jika nanti ketampanan dan kecantikan itu hilang karena suatu kecelakaan atau karena termakan usia, kemudian masih pantaskah hal itu kita sombongkan? Jika harta yang membuat kita bersikap sombong, maka bagaimana nantinya jika harta itu habis atau engkau kecelakaan kemudian harta itu habis untukmu berobat, masih pantaskah kita sombong? lalu kemudia apa yang bisa kita banggakan? Jawabannya adalah tidak ada. Kepala saja yang letaknya paling atas posisinya tidak lebih tinggi dari pantat ketika bersujud kemudian masih pantaskah kita bersikap sombong?

Hanya anda yang akan menjawab, bukan penulis, bukan orang lain.

0 komentar:

Post a Comment

silahkan tinggalkan komentar yang relevan dengan artikel ya.. makasih ^_^